Kolam Terpal Lele: Keunggulan Budidaya dengan Sistem Bioflok

kolam terpal lele sistem bioflok

Kolam Terpal Lele: Keunggulan Budidaya dengan Sistem Bioflok

Budidaya Ikan Lele Kolam Terpal dengan Sistem Bioflok

Pembudidayaan Ikan Lele merupakan peluang usaha menjanjikan yang dapat dilakukan oleh masyarakat sekitar untuk meningkatkan perekonomian. Dengan pengeluaran sedikit dapat memperoleh keuntungan lebih. Perawatan dan pembudidayaan yang mudah dan murah menjadi faktor utama diminatinya usaha ini. Selain itu, kebutuhan akan konsumsi ikan Lele terus meningkat tiap tahunnya baik konsumsi langsung atau pengolahannya. Sehingga daya saing dan harga jual ikan Lele tergolong sangat tinggi. Harga jual ikan Lele sekitar 15 – 20 ribu/kg, dan 1 kg ada sekitar 5-7 ekor ikan. Bayangkan jika peternak menghasilkan produksi sekitar 4000 ekor setiap kali panen. Keuntungan yang didapat juga sangat besar.

 

Tidak hanya dalam negeri, namun ikan Lele juga popular di Mancanegara dan tiap tahun tingkat ekspor ikan juga terus mengalami peningkatan.cara budidaya ikan mas kolam terpal Beberapa negara tujuan ekspor ini diantaranya negara yang meminati santapan ikan baik mentah atau dimasak seperti Perancis, Italia, Jepang dan Korea. Tidak hanya dalam bentuk ikan utuh, ikan Lele juga dapat di distribusikan dalam bentuk pengolahan agroindustri. Karena tekstur yang lembut, kaya nutrisi, dan daging yang tebal membuat apapun pengolahan yang dilakukan terhadap ikan Lele ini sangat enak dan bernilai jual serta diminati oleh masyarakat seperti keripik, abon, bakso, ikan kaleng, nuget, dll.

 

Permintaan yang begitu banyak belum diimbangi dengan jumlah produksi dalam negeri. Dengan menggunakan metode pembudidayaan biasa, produksi yang dihasilkan hanya mampu untuk menutup pengeluaran dan kebutuhan sehari – hari, Sehingga diperlukan inovasi untuk meningkatkan produksi dengan lahan terbatas, namun tetap menjaga kualitas ikan. Oleh karena itu, peternak mulai menerapkan sistem bioflok dalam membudidayakan ikan Lele mereka.

 

Keunggulan Kolam Terpal lele Sistem Bioflok

Sistem Bioflok merupakan teknik pembudidayaan ikan tanpa harus mengganti air. Bioflok terdiri dari gumpalan – gumpalan organik dari mikrooganisme air seperti bakteri, algae, fungi, protozoa, metazoa, rotifera, nematoda, gastrotricha, serta organisme lainnya yang terinteraksi dengan baik dan melayang – layang di dalam air. Sistem ini memanfaatkan mikroorganisme untuk mengubah limbah dan zat – zat anorganik menjadi organik dan mengubah zat – zat beracun menjadi protein yang baik bagi kesehatan ikan. Seperti ditunjukan pada denah gambar dibawah ini.

Kolam Terpal Sistem Bioflok untuk Pembudidayan Ikan Lele

Selain itu, tidak hanya produksi yang dihasilkan melimpah sekitar 10x lipat dari proses biasa, namun sistem bioflok ini juga memiliki keunggulan – keunggulan lain yang sangat menguntungkan, diantaranya :

 

  1. Hemat Pakan

Penggunaan sistem bioflok ini akan menghemat pakan akibat mikrooganisme yang tumbuh dalam kolam memiliki nutrisi yang tinggi untuk pakan ikan. Limbah tambak seperti kotoran, algae, sisa pakan, dan amonia akan didaur ulang dan menjadikannya makanan alami berprotein tinggi. Dengan metode ini maka peternak dapat memberi pakan ikan hanya 2 kali sehari dengan FCR rendah yang dapat mencapai 0,7.

  1. Hemat Air

Dengan menggunakan sistem bioflok ini, tidak perlu lagi untuk sering mengganti air kolam agar nutrisi baik akibat bakteri pembentuk flok dapat terus bekerja. Sistem bioflok dapat mengubah zat beracun seperti amonia menjadi bahan pakan bernutrisi tinggi bagi ikan Lele.

  1. Jumlah Produksi Ikan yang Tinggi

Kolam dengan sistem bioflok mampu menampung jumlah 10x lipat dibanding kolam biasa. Pada kolam biasa, peternak menebar bibit sekitar 100 ekor/m3 untuk menghindari kepadatan dan resiko memakan teman sendiri (kanibalisme) yang dapat terjadi pada ikan Lele. Namun, pada kolam bioflok dengan luasan yang kecil mampu menampung jumlah yang besar. Meskipun dalam kepadatan yang tinggi dan berdesakan, ikan tidak akan mengalami setres atau memangsa ikan lainnya karena ketersediaan makanan yang cukup di dalam kolam. Penebaran bibit yang tinggi akan meningkatkan produksi ikan Lele dengan kualitas yang terjaga dan menguntungkan.

  1. Budidaya di Lahan Terbatas

Dengan menggunakan sistem bioflok, lahan yang terbatas tidak menjadi masalah. Yang diperlukan hanyalah wadah yang akan menampung jumlah ikan yang besar dapat berupa terpal, plastik, atau drum. Perhatikan pula bahwa kolam yang dibuat harus terhindar dari cahaya matahari langsung dan hujan untuk menjaga kualitas air kolam dan tidak menggangu kelangsungan hidup mikroorganisme didalamnya.

  1. Mengontrol Aktivitas Ikan

Karena tidak tergantung pada sinar matahari, suhu kolam akan menurun dan membuat aktivitas ikan pun menurun sehingga ikan akan lebih tenang dan terhindar dari setres.

  1. Ph Air Relatif Stabil

Kadar asam (Ph) air kolam cenderung rendah sehingga kandungan zat beracun seperti amonia akan relatif kecil, sehingga akan menjaga kesehatan ikan.

  1. Tidak menimbulkan bau tidak sedap, sehingga ramah bagi lingkungan.
  2. Pertumbuhan Ikan menjadi Lebih Cepat dan Seragam

Karena ketersediaan makanan yang melimpah akan meningkatkan pertumbuhan ikan menjadi lebih cepat dan lebih seragam tidak tumbuh lebih cepat atau lebih lambat.

  1. Hasil Panen Memiliki Kualitas Tinggi

Ikan yang diproduksi akan terjaga kesehatan dan kualitasnya. Sehingga akan menghasilkan ikan yang sehat dan bersih untuk harga jual yang tinggi pula.

 

Kekurangan Kolam Terpal Lele Sistem Bioflok

 

Terlepas dari keunggulan – keunggulan yang diberikan dari penggunaan sistem bioflok ini, terdapat juga kelemahan yang perlu diwaspadai agar metode yang dilakukan berhasil sesuai yang diharapkan. Berikut adalah kelemahan – kelemahan dari Sistem Bioflok, diantaranya :

 

  1. Memerlukan alat aerasi yang cukup banyak sebagai penyuplai oksigen. Selain itu, dengan penerapan sistem bioflok ini akan muncul gumpalan – gumpalan yang akan terbenam di dasar kolam sehingga perlu diaduk. Dengan tingginya kepadatan di dalam kolam, kadar oksigen yang dibutuhkan menjadi terbatas. Alat Aerasi ini akan mengeluarkan oksigen ke dalam kolam dengan kisaran 4-6 ppm untuk kelangsungan hidup ikan dan juga mikrooganisme di dalamnya.
  2. Alat Aerasi harus selalu hidup selama 24 jam, sangat beresiko saat mati lampu. Sehingga peternak harus menyediakan alam pembangkit listrik cadangan seperti generator agar alat aerasi tetap terjaga, dan biaya pengeluaran pun menjadi lebih besar.
  3. Harus sering dikontrol dan diawasi. Karena resiko munculnya zat berbahaya seperti Nitrit dan Amonia dapat kembali, serta jika terjadi pengendapan maka akan muncul H2S yang lebih tinggi karena Ph air yang rendah.
  4. Bila kadar flok terlalu pekat maka akan beresiko menyebabkan kematian bertahap pada ikan karena kurangnya kadar oksigen.
  5. Jumlah floc harus selalu diukur agar dapat diseimbangkan dengan jumlah pakan. Jika jumlah floc lebih besar, maka pemberian pakan harus dikurangi.
  6. Sangat tidak cocok diterapkan di kolam tanah atau tambak. Karena akan mudah tercampur dengan tanah dan jika mengalami kebocoran maka akan sulit untuk diganti.

Dengan mengetahui semua keunggulan dan kelemahan dari sistem bioflok, maka peternak diharapkan akan lebih memahami terhadap langkah – langkah pembudidayaan Ikan Lele yang baik dan dapat mengambil langkah yang bijak dalam menyelesaikan masalah dan kerugian yang nanti dapat muncul untuk peluang kesuksesan usaha yang lebih besar.

BACA JUGA: Tips Cara Beternak & Memelihara Ikan Lele Dumbo di Kolam Terpal Bulat

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.